Apa yang terjadi jika ada dua macan di dalam satu kandang? Itulah yang terjadi di paddock Movistar Yamaha. Dua pembalap yang sama kuat, dan sama-sama punya ego besar, perseteruan diantara keduanya pun tak terelakkan.
Sejak peristiwa #SepangClash tahun lalu, perseteruan antara Valentino Rossi vs Jorge Lorenzo tak kunjung reda. Rossi yang menuduh Lorenzo menjadi juara dunia 2015 karena dibantu oleh Marquez, tentu membuat Lorenzo panas hati. Sebaliknya, ulah Lorenzo yang mengacungkan jempol ke bawah saat Rossi menerima tropi, nampaknya tak termaafkan oleh Rossi.
Perang kata-kata di media pun masih terus berlanjut . . .
Satu-satunya cara untuk menciptakan rasa nyaman di paddock adalah menyingkirkan salah satu di antara mereka. Nampaknya hal itu disadari benar oleh Rossi.
Strategi pertama Rossi berhasil membuat Lorenzo panas . . .
Lorenzo yang masih menggantung tawaran Yamaha untuk kontrak MotoGP 2017/2018, dimanfaatkan Rossi untuk mengeluarkan jurus berikutnya. Sekali lagi Rossi menemukan momen yang tepat, yaitu beredarnya rumor bahwa Ducati sedang mendekati Lorenzo.
Rossi pun membuat pernyataan, “Lorenzo tidak akan berani ambil resiko pindah ke Ducati.”
Pernyataan Rossi ini bukan untuk membuat Lorenzo bertahan di Yamaha, tetapi justru sebaliknya. Sebagai pembalap terkencang di MotoGP, Lorenzo pastinya pengin sekali membuktikan bahwa Rossi salah! Dia bisa kencang dengan motor apa saja, sesuai dengan ucapannya sendiri beberapa waktu lalu.
Nampaknya strategi Rossi untuk membuat Lorenzo tak betah di paddock Yamaha lumayan berhasil. Hingga saat ini, Lorenzo masih menggantung tawaran Yamaha. Kabarnya, pembalap Spanyol tersebut merasa tidak perlu terburu-buru, dan akan membuat keputusan setelah race MotoGP Austin atau MotoGP Jerez.
Kode 300 x 250
Sejak peristiwa #SepangClash tahun lalu, perseteruan antara Valentino Rossi vs Jorge Lorenzo tak kunjung reda. Rossi yang menuduh Lorenzo menjadi juara dunia 2015 karena dibantu oleh Marquez, tentu membuat Lorenzo panas hati. Sebaliknya, ulah Lorenzo yang mengacungkan jempol ke bawah saat Rossi menerima tropi, nampaknya tak termaafkan oleh Rossi.
Perang kata-kata di media pun masih terus berlanjut . . .
Satu-satunya cara untuk menciptakan rasa nyaman di paddock adalah menyingkirkan salah satu di antara mereka. Nampaknya hal itu disadari benar oleh Rossi.
Strategi #1
Maka ketika tawaran untuk MotoGP 2017/2018 datang, Rossi tak perlu berpikir dua kali untuk menandatanganinya. Rossi harus lebih dahulu mendapatkan kepastian itu . . . agar bisa melancarkan strategi berikutnya, yaitu menyingkirkan Lorenzo.Strategi #2
Perang dingin pun dimulai . . . hanya beberapa jam setelah penandatanganan kontrak tersebut, Rossi membuat “ulah” di FP4 Qatar, apalagi ada momen yang dirasa tepat. Rossi menunjukkan rasa marah terhadap Lorenzo yang dianggapnya menghalangi jalurnya saat melaju kencang di sesi latihan tersebut.Strategi pertama Rossi berhasil membuat Lorenzo panas . . .
Strategi #3
Lorenzo yang masih menggantung tawaran Yamaha untuk kontrak MotoGP 2017/2018, dimanfaatkan Rossi untuk mengeluarkan jurus berikutnya. Sekali lagi Rossi menemukan momen yang tepat, yaitu beredarnya rumor bahwa Ducati sedang mendekati Lorenzo.
Rossi pun membuat pernyataan, “Lorenzo tidak akan berani ambil resiko pindah ke Ducati.”
Pernyataan Rossi ini bukan untuk membuat Lorenzo bertahan di Yamaha, tetapi justru sebaliknya. Sebagai pembalap terkencang di MotoGP, Lorenzo pastinya pengin sekali membuktikan bahwa Rossi salah! Dia bisa kencang dengan motor apa saja, sesuai dengan ucapannya sendiri beberapa waktu lalu.
Nampaknya strategi Rossi untuk membuat Lorenzo tak betah di paddock Yamaha lumayan berhasil. Hingga saat ini, Lorenzo masih menggantung tawaran Yamaha. Kabarnya, pembalap Spanyol tersebut merasa tidak perlu terburu-buru, dan akan membuat keputusan setelah race MotoGP Austin atau MotoGP Jerez.

